Friday, 31 March 2017

Jenis-jenis Terapi dalam Tiga Mazhab Besar Psikologi



Mazhab Psikoanalisis
1.      Asosiasi bebas: teknik yang digunakan dalam terapi ini yaitu klien diminta untuk duduk dalam posisi santai atau tidur. Kemudian klien menceritakan segala sesuatu yang ada di dalam pikirannya baik itu hal penting, sepele, logis, atau relevan semuanya itu harus klien ungkapkan. Setelah klien mengatakan apa yang ada di dalam pikirannya maka hal tersebut diartikan sebagai ungkapan pengalaman-pengalaman yang direpres oleh klien.
2.      Analisis mimpi: menurut Freud mimpi merupakan jalan utama menuju ke alam tak sadar karena mimpi ditentukan oleh keinginan-keinginan yang telah direpres. Kemudian, keinginan tersebut akan muncul kembali dalam bentuk simbol sebagai jalan menuju pemuasan. Selain itu, teknik analisis mimpi memperlihatkan bahwa simbol-simbol tertentu digunakan untuk menggambarkan ketidaksadaran, khususnya kompleks-kompleks seksual. Simbol tersebut dapat berbeda atau memiliki bentuk yang sama pada masing-masing orang.
3.      Analisis transferensi: teknik ini terjadi pada saat terapi, ketika klien melakukan proses pemindahaan perasaannya  yang terpendam atau displacement kepada terapis yang menangani dirinya. Persaan tersebut dapat berupa cinta atau benci yang klien repres. Transferensi dilakukan oleh klien dengan tujuan memenuhi kebutuhannya yaitu mengekspresikan dirinya dan berlangsung secara tidak sadar sehingga terapis sering menjadi sasaran klien. Peran terapis dalam teknik ini yaitu menjelaskan perasaan yang sedang diekspresikan klien sehingga ia dapat memahami kesulitan yang ia alami.
4.      Hipnotis: merupakan perubahan pikiran, persepsi, tingkah laku diakrenakan adanya pemberian sugesti. Seseorang yang mengalami hipnotis perhatiannya akan akan dipersempit dan difokuskan, kemudian melalui hipnotis seseorang akan mudah menggunakan halusinasi dan imajinasinya, sikap juga akan berubah menjadi pasif serta reseptif, sangat mudah disugesti dan  tanggapan terhadap rasa sakit berkurang. Teknik ini digunakan oleh Freud ketika menangani pasien yang mengalami histeria.
5.      Interpretasi: membuat gejala tak sadar menjadi sadar atau membuat sadar semua makna, sumber, sejarah, atau penyebab dari gejala psikis tertentu yang terjadi secara tidak sadar. Arti lainnya yaitu analis atau terapis mengartikan tingkah laku tertentu dari klien. Saat menyampaikan interpretasi analis harus bisa memperhatikan waktu yang tepat dan baik dalam menyampaikan makna dari tingkah laku klien. Jika interpretasi diberikan pada waktu yang tidak tepat maka informasi dari interpretasi tersebut akan tidak berguna dan bersifat merugikan. Kemudian analis juga harus bisa mepertahankan dirinya agar tidak jatuh ke dalam interpretasi perasaan dan pikiran klien sehingga analis melakukan interpretasi menurut pengalaman dan masalah hidup analis itu sendiri.






video


Mazhab Behavioristik
1.      Operant conditioning: teknik terapi ini berdasarkan pada evaluasi dan modifikasi hal-hal yang terjadi dahulu dan konsekuensi terhadap perilaku klien. Pembentukan perilaku yang diharapkan didukung dengan dilakukannya penguatan (reinforcement) positif dan perilaku yang tidak diharapkan atau dilarang akan didukung atau diberikan penguatan (reinforcement) negatif.
2.      Terapi aversi: terapi ini dilakukan dengan pemberian stimulus yang tidak mengenakkan kepada pasien atau klien saat mereka melakukan perilaku yang tidak diharapkan. Stimulus tersebut dapat berupa electric shock, suara keras, dan lain-lain. Namun, beberapa cara dari teknik ini dilarang secara hukum sehingga muncul teknik pengganti yaitu sensitisasi tertutup yang lebih bisa diterima karena menggunakan pikiran-pikiran yang tidak menyenagkan sebagai stimulus yang aversif.
3.      Terapi implosif: terapi ini digunakan untuk pasien yang mengalami kecemasan dikarenakan situasi. Caranya yaitu pasien dihadapkan secara langsung pada situasi yang membuat ia cemas pada jangka waktu tertentu (flooding) atau dibayangkan di dalam imajinasi klien (implossion).
4.      Desensitisasi sistematik: terapi ini memanfaatkan relaksasi otot secara mendalam untuk mengatasi atau melawan kecemasan pasien yang memiliki kecemasan atau fobia dihadapkan pada hierarki bertahap terhadap situasi atau objek yang menakutkan (situasi yang saling berhubungan diurutkan mulai dari yang paling tidak menakutkan sampai menakutkan). Sehingga pasien belajar bagaimana mengatasi objek atau situasi yang lebih menakutkan bagi dirinya. Tahap pertama dalam terapi ini yaitu pasien diminta untuk mengendorkan bagian otot utamanya secara sadar atau sengaja. Lalu, tahap kedua yaitu pasien diminta untuk menemukan masalah serta situasi yang membuat diri individu memunculkan emosi yang tidak menyenangkan.   
5.      Peniruan melalui model: teknik ini merupakan proses belajar dari pengamatan seseorang dan menimbulkan perubahan yang terjadi karena adanya peniruan. Teknik ini dapat digunakan pada pasien yang mengalami fobia, ketergantungan, kecanduan obat-obatan atau alkohol. Teknik terapi ini bertujuan untuk memperkuat perilaku klien yang sudah ada atau membetuk perilaku baru melalui proses belajar dari penokohan atau modeling.


video



 Mazhab Humanistik
1.      Person-Centered Therapy: terapi ini biasa kita kenal dengan nama client-centered therapy atau terapi nondirektif. Awalnya teknik ini digunakan oleh Carl Rogers pada tahun 1942. Carl Rogers mengatakan bahwa seseorang memiliki kecenderungan dasar yang mendorong merekake arah pertumbuhan dan pemenuhan diri serta gangguan psikologis umumnya terjadi karena orang lain menghambat individu menuju aktualisasi diri. Menurut Rogers terapi ini membantu pasien untuk lebih menerima dan menyadari dirinya yang sebenarnya melalui penciptaan situasi penerimaan dan penghargaan. Kemudian, Rogers juga berpendapat bahwa pada terapi ini terapis tidak boleh memaksakan tujuan atau nilai yang dimilikinya kepada pasien. Telah disebutkan diatas bahwa terapi ini bersifat nondirektif artinya bukan terapis yang memimpin atau mengarahkan terapi, tetapi pasien karena fokus pada terapi ini adalah pasien itu sendiri. Pada terapi ini terapis membantu pasien dalam menggambarkan perasaan-perasaan yang diungkapkan pasien untuk dihubungkan dengan perasaan pasien yang lebih mendalam  dan bagian dari dirinya yang tidak diakui karena tidak adanya  penerimaan oleh orang lain. Lalu terapis menjelaskan dengan kata-kata tetapi tidak memberi penilaian terhadap semua hal yang pasien ungkapkan. Terdapat enam syarat yang harus dipenuhi terapis saat melakukan terapi ini: (1) terapis menghargai tanggung jawab pasien terhadap perilakunya sendiri; (2) terapis mengakui bahwa pasien dapat menggerekkan dirinya kearah kematangan dan independensi; (3) terapis menciptakan suasana yang hangat dan memberikan kebebasan yang penuh sehingga pasien dapat mengungkapkan apa yang diinginkannya; (4) membatasi tingkah laku bukan sikap; (5) terapis membatasi pemahaman dan penerimaannya terhadap emosi yang diungkapkan oleh pasien; (6) terapis tidak boleh bertanya, menyelidiki, menyalahkan, memberikan penafsiran, menasihatkan, mengajarkan, membujuk, dan meyakinkan kembali.
2.      Terapi Gestalt: terapi ini menekankan bahwa manusia memiliki kemampuan untuk menentukan arah kehidupannya. Selain itu manusia juga berjuan untuk mencapai keseluruhan dan integrasi dari pikiran, perasaan, dan tindakan. Hal yang menjadi sasaran utama pada terapi Gestalt yaitu memperkuat kesadaran seseorang yang akan meningkatkan arti kehidupannya secara penuh. Penyadaran tersebut dilakukan agar pasien secara terus-menerus dapat mencapai keterpaduan atau keseimbangan yang diperlukan untuk perkembangan dirinya agar berlangsung dengan baik.
3.      Terapi eksistensial: terapi ini berfokus bahwa setiap manusia memiliki banyak potensi-potensi yang baik di dalam dirinya dibandingkan potensi yang buruk. Melalui terapi ini kualitas yang ada di dalam diri manusia ditelaah. Terapi ini akan  membantu setiap manusia untuk menemukan tujuan serta makna yang ada didalam dirinya dan menyadarkan klien bahwa mereka memiliki hak serta kebebasan untuk berindak dan mengaktualisasikan dirinya sehingga mencapai kehidupan yang lebih bermakna.
4.      Terapi rasional emotif: terapi ini bertujuan untuk membantu klien dalam mengatasi masalah yang berhubungan dengan emosi, perilaku, dan pikiran atau gagasan yang tidak logis sehingga klien dapat mengembangkan dirinya dalam membangun minat, berpikir logis, peenerimaan diri, dan komitmen terhadap sesuatu. Lewat terapi ini klien dibantu untuk berpikir dan bertindak secara rasional bagi dirinya dan lingkungannya.


video




Daftar Pustaka:
Bertens, K. (2006). Psikoanalisis Sigmund Freud. Jakarta: Gramedia.
Gunarsa, S. (2007). Konseling dan psikoterapi. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Hall & Lindzey. (1993). Psikologi kepribadian 3 teori-teori sifat dan kepribadian. Yogyakarta: Kanisius.
Naisaban, L. Para psikolog terkemuka di dunia. Jakarta: Grasindo.
Semiun, Y. (2006). Teori kepribadian dan terapi psikoanalitik freud. Yogyakarta: Kanisius.
Tomb, D. (2003). Buku saku psikiatri. Jakarta: EGC.

Sumber video
https://www.youtube.com/watch?v=nHayhitr0sk&list=PLcz4YBjf8RfQy_i72HZ-_h2aBuoq-WAkh
https://www.youtube.com/watch?v=juEeUg0groU
https://www.youtube.com/watch?v=bY51IZKq-9I&list=PL0WyguizMqJ69iDH_TF_UsZQU1MfA37FX

Sunday, 27 November 2016

Kepemimpinan Transaksional dan Tranformasional



1.      Kepemimpinan Transaksional

Kepemimpinan yang mengarahkan atau memotivasi para pengikutnya pada tujuan yang telah ditetapkan dengan cara memperjelas peran dan tugas mereka. Pada kepemimpinan ini terdapat beberapa karakteristik, pertama mengenai penghargaan bersyarat, yaitu menjanjikan penghargaan untuk kinerja yang bagus dan mengakui pencapaian yang diperoleh. Karakteristik kedua tentang manajemen dengan pengecualian, yaitu mengamati dan mencari penyimpangan dari aturan-aturan dan standar serta melakukan tindakan perbaikan. Lalu karakteristik ketiga, yaitu kepemimpinan bersifat bebas (Laissez-Faire) artinya melepaskan tanggung jawab dan menghindari pengambilan keputusan maksudnya pemimpin menyadari bahwa anggotanya mampu dalam melakukan pengambilan keputusan sendiri. Contoh kasus:

Laporan Reporter Tribun Jogja, Santo Ari
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN – 

Polda DIY memberikan penghargaan kepada anggotanya yang berhasil mengungkap dan mengamankan tersangka dalam kasus orang hilang yang direkrut organisasi Gafatar.
Sebanyak 11 personel dari Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda DIY mendapat piagam penghargaan dalam upacara yang digelar di lapangan Polda DIY, Rabu (17/2/2016).
Kapolda DIY Brigjen Pol Erwin Triwanto mengatakan penghargaan ini untuk memotivasi kinerja dan meningkatkan keberhasilan pelaksanaan tugas bagi anggotanya yang selama ini aktif dan berprestasi di jajaran Polda DIY.
Penghargaan ini untung anggota yang telah berhasil mengungkap dan menangkap pelaku atas kasus orang hilang dokter Rica yang diduga direkrut organisasi Gafatar.
"Mereka berangkat dengan tekad yang kuat, dengan waktu 10 hari akhirnya bisa mendapatkan korban yang diculik," ujar Kapolda.
Adapun anggota yang mendapat penghargaan adalah AKBP Djuhandani Rahardjo selaku Wadir Reskrimum Polda DIY, lalu Kasubdit 1 Ditreskrimum AKBP Ganda Saragih, Kanit 1 Subdit 1 Ditreskrimum Kompol I Wayan Artha, Kanit 4 Sat Intelkan Polres Sleman Iptu Dwi Putra Santosa.
Kemudian selebihnya adalah anggota opsnal Ditreskrimum yakni Bripka Ari Wintoko, Bripka Fery Andi, Brigadir Eko Wibowo, Brigadir Suharjono, Brigadir Kimantoro Tri, Bripka Nurul Fajri dan PNS Ditreskrimum Dadang Arif.
Wadir Reskrimum AKBP Djuhandani Rahardjo mengatakan rasa syukurnya karena pimpinan telah memperhatikan kinerja para personel di lapangan.
Hal ini menurut Djuhandani memberikan motivasi ke depan agar ia dan jajarannya lebih baik dalam melindungi dan mengayomi masyarakat khususnya dalam hal penegakan hukum.
"Opsnal Unit Jatanras sudah 12 kali mendapat penghargaan sejak 2010 lalu. Penghargaan ini didapat dengan melakukan pengungkapan kasus yang cukup sulit dan perlu kerja keras dari anggota," paparnya. (tribunjogja.com)

Analisis kasus: penghargaan yang diberikan oleh Polda kepada polisi yang berhasil mengungkap dan mengamankan tersangka penculikan dari suatu organisasi merupakan salah satu contoh bentuk kepemimpinan transaksional, dimana piagam penghargaan yang diberikan merupakan penghargaan bersyarat yang dapat memotivasi para anggota kepolisian.


2.      Kepemimpinan Tranformasional
Kepemimpinan yang menginspirasi para pengikutnya untuk mengenyampingkan kepentingan pribadi mereka demi kebaikan organisasi dan memiliki pengaruh yang luar biasa pada diri para pengikutnya. Pemimpin tranformasional menaruh perhatian terhadap perkembangan diri para pengikutnya, mengubah kesadaran pengikut mengenai isu-isu yang ada dan menginspirasi para pengikutnya untuk bekerja keras.
Pada kepemimpinan ini terdapat beberapa karakteristik diantaranya, yaitu berupa pengaruh yang ideal dengan cara memberikan visi dan misi, menanamkan kebanggaan, serta mendapatkan respek dan kepercayaan. Kedua, yaitu memiliki motivasi yang inspirasional dimana pemimpin mengkomunikasikan ekspektasi yang tinggi, menggunakan simbol-simbol untuk berfokus pada upaya, dan menyatakan tujuan-tujuan penting secara sederhana. Ketiga, yaitu pemimpin memiliki stimulasi yang intelektual yang meningkatkan kecerdasan, rasionalitas, dan pemecahan masalah yang cermat. Keempat, yaitu memiliki pertimbangan yang bersifat individual artinya pemimpin memberikan perhatian pribadi, memperlakukan masing-masing karyawan secara individual, serta melatih dan memberikan saran. Contoh kasus: 

Keterlibatan pertamanya dalam gerakan Hak Sipil adalah dalam insiden Miss Claudette Colvin dan Miss Rosa Parks ketika ia menolak menyerahkan kursinya untuk orang putih. King terlibat dalam kasus ini, dan itu menyebabkan kerusuhan Bus Montgomery. King memimpin kerusuhan ini.
Dia lalu merintis Konferensi Kepemimpinan Kristen Selatan, kelompok ini diciptakan dari gabungkan gereja kulit hitam untuk mengorganisir kerusuhan tanpa kekerasan untuk reformasi hak-hak sipil. King menerapkan metode tanpa kekerasan Gandhi di semua kerusuhan itu. Ia sangat sukses dan opini publik bergoyang dalam mendukung gerakan. Dengan demikian, banyak hak dimasukkan ke dalam hukum Amerika Serikat.

Pelajaran Kepemimpinan Martin LutherKing Junior

1. Pasif merupakan karakteristik buruk
Martin Luther King melihat bahwa kepasifan untuk kebaikan adalah seburuk mengabadi pada kejahatan.
Hal ini terutama berlaku jika Anda ingin menjadi pemimpin. Anda tidak bisa menjadi pasif. Ketika ada konflik yang terjadi antara dua anggota tim Anda, Anda harus menjadi orang yang menyelesaikannya. Ketika ada tantangan utama yang dihadapi organisasi Anda, Anda tidak dapat bersembunyi. Anda harus aktif dalam memulai metode baru, menghadapi tantangan dan memecahkan masalah.
2. Kepemimpinan kreatif diperlukan untuk perubahan
Martin Luther King melihat pentingnya revolusi disiplin. Dia melihat kekuatan sekelompok individu yang disiplin dan terorganisir yang berusaha untuk membawa perubahan positif di dunia. Dengan wahyu itu, dia memimpin gerakan hak-hak sipil untuk mencapai tujuannya.
Seorang pemimpin yang sangat baik selalu menantang status quo. Dia tidak memungkinkan norma-norma sosial untuk menentukan metodenya atau tujuan.
3. Cinta adalah kekuatan yang lebih besar daripada kekerasan
Martin Luther King percaya bahwa cinta dan non-kekerasan adalah senjata yang lebih kuat daripada kekerasan dan kebencian dalam mempengaruhi perubahan. Dengan itu, ia menggunakan metode non-kekerasan sebagai sarana utama untuk mencapai persamaan hak bagi rakyatnya.
Apa pun penyebabnya Anda perjuangkan, atau organisasi yang Anda pimpin, selalu baik untuk mengetahui bahwa pada akhirnya, di atas segalanya, itu adalah cinta yang dapat mengubah dunia

Analisis kasus: kepemimpinan Martin Luther dikatakan sebagai kepemimpinan tranformasional dikarenakan ia telah menggunakan metode non kekerasan untuk memperjuangkan hak rakyatnya. Ia telah mengorganisir kerusuhan tanpa kekerasan untuk mereformasi hak-hak warga sipil dengan begitu ia telah mengubah pandangan para warga sipil bahwa kekerasan bukanlah hal yang dapat menyelesaikan masalah. Pada hal tersebut Martin Luther mengutamakan kepentingan orang lain khususnya orang kulit hitam dan ia juga mendapat dukungan masyarakat dalam gerakannya tersebut yang tanpa kekerasan. Selain itu Martin Luter juga merupakan pemimpin yang aktif untuk ikut serta memecahkan masalah yang ada pada anggotanya serta memiliki visi dan misi yang menggerakkan dia untuk memperjuangkan hak-hak sipil.

Daftar Pustaka:
Robbins, S. & Judge,T. (2008). Perilaku organisasi organizational behavior. Jakarta: Salemba Empat.
http://perilakuorganisasi.com/kepemimpinan-martin-luther-king-jr.html
http://cybsearch.com/evolving-role-tech-leadership/



Definisi, Komponen, Jenis, Fungsi dan Pembagian Kepemimpinan




Definisi Kepemimpinan
Dalamt Sarwono (2005) definisi kepemimpinan menurut para ahli adalah sebagai berikut:
Hemphill & Coons (1957), kepemimpinan adalah perilaku seorang individu ketika ia mengarahkan aktivitas sebuah kelompok menuju suatu tujuan bersama.
Jacobs (1970), kepemimpinan adalah interaksi antarmanusia di mana salah satunya menyajikan satu jenis informasi tertentu sedemikian rupa sehingga yang lain yakin bahwa hasilnya akan lebih baik jika ia berperilaku sesuai dengan cara-cara yang dianjurkan atau diharapkan.
Stogdill (1974), kepemimpinan adalah pengawalan dan pemeliharaan suatu struktur dalam harapan dan interaksi.
Katz & Kahn (1978), kepemimpinan adalah tambahan pengaruh yang lebih tinggi dan di atas mekanisme pencapaian dengan arahan rutin dari organanisasi.
Roach & Behling (1984), kepemimpinan adalah proses mempengaruhi aktivitas sebuah kelompok yang terorganisasi menuju pencapaian suatu tujuan.
Berdasarkan kelima definisi dari para ahli di atas maka dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan adalah interaksi antarmanusia dengan pengaruh yang lebih tinggi untuk mengarahkan aktivitas sebuah kelompok ke suatu tujuan tertentu.


Komponen Kepemimpinan
Terdapat tiga komponen penting didalam sebuah kepemimpinan, yaitu:
- Pengaruh: kepemimpinan adalah pengaruh dan terjadi karena adanya proses pengaruh, pemimpin mempengaruhi bawahan atau pengikut kearah yang diinginkan.
- Legitimasi: kepemimpinan adalah legitimasi, merupakan pengakuan kedudukan seorang pemimpin dan posisi formal dari kekuasaan dalam sebuah organisasi. Pemimpin yang memiliki legitimasi personal dapat mempengaruhi bawahan atau pengikutnya dan pengikut tersebut juga rela dipengaruhi serta diperintah oleh pemimpin yang memiliki legitimasi.
- Tujuan: kepemimpinan adalah pencapaian tujuan karena seorang pemimpin berurusan dengan tujuan-tujuan baik tujuan individu, kelompok, dan organisasi. Pada hal ini pemimpin harus dapat menyeimbangkan antara tujuan organisasi dengan keinginan bawahan. 

Jenis-jenis Kepemimpinan
1.      Otoriter
Pemimpin meminta karyawan atau bawahannya untuk melakukan sesuatu dan memerintahkan bagaimana caranya sesuatu itu dilakukan tanpa meminta petunjuk atau saran dari para pengikutnya. Jenis kepemimpinan ini diterapkan ketika seorang pemimpin memiliki semua informasi untuk memecahkan masalah, mengejar waktu, dan karyawan yang termotivasi.

2.      Partisipatif (Demokratis)
Jenis kepemimpinan ini memiliki gaya yang lebih bersahabat dan elagiter serta bahasa yang digunakan bukan berupa perintah melainkan ajakan. Selain itu, dalam prakteknya pemimpin demokratis melibatkan dirinya dan satu atau lebih karyawan dalam proses pengambilan keputusan. Jika dalam bentuk tim, pemimpin menentukan apa yang harus dilakukan dan bagaimana cara melakukannya, tapi pemimpin tetap menjadi yang paling bertanggung jawab. Jenis kepemimpinan ini diterapkan jika pemimpin memiliki informasi yang cukup mengenai kekuatan dan kelemahan anak buah, sehingga ia dapat membagi tugas dan tanggung jawab sesuai dengan keterampilannya masing-masing.

3.      Delegatif (Bebas)
Pemimpin membiarkan karyawan untuk mengambil keputusan, tetapi pemimpin tetap bertanggung jawab atas keputusan yang dibuat oleh karyawan. Jenis kepemimpinan ini merupakan kemampuan mendelegasikan (memberikan tanggung jawab dan pengambilan keputusan langsung pada bawahan) tugas dan tanggung jawab kepada rekan kerja yang ada di bawahnya, namun tetap pemimpin yang bertanggung jawab jika terjadi kesalahan. Jenisi kepemimpinan ini akan berhasil jika karyawan mampu menganalisis situasi dan menentukan apa yang perlu dilakukan dan bagaimana melakukannya.

4.      Kharismatis
Pemimpin yang mampu menggerakkan orang lain melalui kekuatan pribadinya. Terdapat sesuatu yang menarik pada diri seorang pemimpin kharismatis sehingga orang mudah mengikutinya, mendengarkan nasihatnya, dan mentaati perintahnya. Pemimpin jenis ini membutuhkan pendamping yang dapat menjadi sumber gagasan dan pengatur kerja.

5.      Ideologis
Pemimpin yang tidak begitu ahli dalam hal dalam nemyusun rencana kerja dan pelaksanaannya, tetapi pemimpin jenis ini memiliki pikiran yang hidup dan dipenuhi oleh gagasan-gagasan yang bagus serta memiliki visi-visi yang tinggi. Melalui visi dan gagasan yang dimiliki pemimpin ideologis, ia mampu menggerakkan dan mempengaruhi mereka yang dipimpinnya.

6.      Organisatoris
Pemimpin yang pandai menggerakkan orang melalui kecakapan organisatorisnya, dapat menyusun rencana kerja yang jitu dan mengatur kerja sama yang efisien. Selain itu, pemimpin jenis ini juga dapat menolong secara tepat, mereka yang ada dibawah kepemimpinannya dalam mengatasi kesulitan yang seringkali dijumapi saat melakukan pekerjaan.

Fungsi Kepemimpinan
1.      Kepemimpinan berguna untuk menetapkan struktur tugas, memberikan saran untuk menyelesaikan suatu masalah, informasi, dan pendapat.
2.      Kepemimpinan dapat membantu kelompok atau organisasi untuk berjalan secara efektif, melakukan persetujuan dengan kelompok lain, dan menengahi perbedaan pendapat yang ada di antara anggota kelompok. Berdasarkan kedua fungsi tersebut, maka kepemimpinan dalam sebuah organisasi fungsinya dibagi menjadi berikut:
-          Fungsi pengambilan keputusan (decision making)
-          Fungsi pengarahan (directing)
-          Fungsi pendelegasian (delegation)
-          Fungsi pemberdayaan (empowerment)
-          Fungsi fasilitasi (facilitating)
-          Fungsi pengendalian (controlling)

Pembagian Kepemimpinan dalam Organisasi
Menurut Soekarso & Putong (2015) pemimpinan dalam sebuah organisasi dibagi menjadi dua, yaitu:
1.      Pemimpin formal: pemimpin yang secara resmi diangkat dalam struktur organisasi dan kekuasaannya bersumber dari organisasi berupa kekuasaan resmi (legitimate power)
2.      Pemimpin informal: pemimpin yang tidak resmi diangkat, tidak terlihat dalam struktural organisasi, dan kekuasaannya bersumber dari pribadi misalnya berupa kekuasaan ahli (expert power)

Daftar Pustaka:
Mangunhardjana, A. M. (1976). Kepemimpinan. Jakarta: Kanisius.
Sarwono, S. W. (2005). Psikologi sosial : psikologi kelompok dan terapan. Jakarta: Balai Pustaka.
Soekarso & Putong, Iskandar. (2015). Kepemimpinan kajian teoritis dan praktis. Yogyakarta: Mitra Wacana Media.
Susanto, A. B. & Putra, M. (2010). 60 Management gems applying management wisdom in life. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. 
https://yourstory.com/tag/leadership/
  

Saturday, 15 October 2016

Psikologi Manajemen : Komunikasi dan Dimensi Komunikasi



Definisi Komunikasi
            Komunikasi merupakan salah satu kegiatan yang selalu kita lakukan sehari-hari. Tanpa komunikasi kita tidak akan mengerti apa yang dimaksudkan seseorang untuk disampaikan kepada kita. Karena komunikasi adalah kegiatan yang selalu kita lakukan, maka sebaiknya kita perlu memahami apa itu arti dari komunikasi.
 Menurut Rogers dan Kincaid (dalam Wiryanto, 2004) komunikasi adalah suatu proses dimana dua orang atau lebih membentuk atau melakukan pertukaran informasi antara satu sama lain, yang pada gilirannya terjadi pengertian yang mendalam. Menurut Shannon dan Weaver (dalam Wiryanto, 2004) komunikasi merupakan bentuk interaksi manusia yang saling mempengaruhi satu sama lain, sengaja atau tidak disengaja dan tidak terbatas pada bentuk komunikasi verbal, tetapi juga dalam hal ekspresi muka, lukisan, seni dan teknologi.
Dari pengertian ahli tersebut maka dapat dikatakan bahwa komunikasi tidak selalu terjadi antara dua orang, tetapi bisa dilakukan oleh beberapa orang contohnya seperti berdiskusi kelompok, dan dalam komunikasi tersebut terdapat pesan yang ingin disampaikan bukan hanya sekedar disampaikan saja tetapi harus dimengerti oleh orang yang menerima pesan itu sehingga komunikasi dapat berjalan dengan lancar. Selain itu komunikasi bukan saja proses menyampaikan pesan tetapi pesan yang disampaikan itu juga akan membawa pengaruh terhadap individu yang menerima pesan. Contohnya seorang guru yang menasehati anak muridnya untuk belajar lebih giat lagi, dan nasihat guru tersebut ditanggapi serta dilakukan oleh salah satu murid yang ada di kelas itu.

Kemudian, komunikasi juga bukan hanya terpaku pada bentuk lisan dan tulisan, tetapi bisa juga lewat ekspresi muka, gerakan tubuh, intonasi, atau bisa disebut dengan komunikasi non verbal. Kemudian komunikasi bukan hanya dapat dilakukan melalui surat atau secara langsung (tatap muka), tetapi bisa dilakukan melalui media sosial seiring dengan perkembangan teknologi seperti Facebook, Twitter, Instagram dan bisa melalui disebuah karya seni seperti lukisan untuk menyampaikan pesan atau makna dari lukisan tersebut. 

Dimensi Komunikasi
a.       Isi : menurut Ismainar (2015) isi merupakan hal yang berhubungan dengan kandungan yang ada di dalam sebuah pesan dan mengacu pada bentuk perilaku yang diharapkan dari orang yang menerima pesan tersebut. Contoh : seorang atasan yang meminta karyawannya untuk menemui dia setelah rapat selesai. Melalui contoh tersebut, maka dimensi isinya adalah bawahan tersebut menemui atasannya (perilaku yang diharapakan). Selain itu, isi pesan yang ingin disampaikan dapat mempengaruhi teknik komunikasi, contoh : pesan yang berisi informasi disampaikan dengan datar dan perlahan.
b.      Kebisingan : disebut juga noise merupakan sesuatu yang ada di lingkungan komunikasi dan dapat mengganggu jalannya komunikasi. Noise atau kebisingan biasanya muncul jika komunikasi berbentuk verbal. Kebisingan dapat berasal dari orang yang menyampaikan pesan ataupun dari luar. Contoh kebisingan dari dalam diri orang yang menyampaikan pesan yaitu masalah emosi, mental dan fisik. Sedangkan kebisingan yang dari luar dapat berupa benda-benda yang bersuara keras dan lingkungan yang berisik.
c.       Jaringan :  menurut Dijk (dalam Ibrahim dan Akhmad, 2014) jaringan adalah kumpulan mata rantai hubungan di antara unsur-unsur dalam suatu unit. Dimensi ini melihat hubungan antara individu satu dengan individu lain dalam proses komunikasi untuk mengetahui siapa yang menjadi penyebar isi dalam proses komunikasi.
d.      Arah : komunikasi dapat berjalan baik secara vertikal ataupun horizontal. Menurut Robbins (dalam Ismainar, 2015) arah dalam komunikasi dapat dibedakan menjadi :
-          Vertikal ke bawah, yaitu komunikasi yang mengalir dalam sebuah kelompok dari satu tingkat ke tingkat yang lebih bawah. Arah komunikasi ini bukan hanya dilakukan secara tatap muka saja, tapi bisa juga melalui media. Contoh : seorang manajer yang mengirim surat pemberitahuan ke rumah karyawannya.
-          Vertikal ke atas, yaitu komunikasi yang mengalir ke tingkat yang lebih tinggi dalam sebuah kelompok atau organisasi. Contoh : seorang karyawan yang menyampaikan perkembangan perusahaan kepada atasannya. Arah komunikasi ini menyebabkan atasan dapat mengerti perasaan karyawan terkait dengan pekerjaan, rekan kerja, dan organisasinya secara umum.
-        Menurut Robbins dan Judge (2008) terdapat juga arah komunikasi yang lateral atau disebut juga horizontal. Komunikasi ini terjadi dalam anggota yang ada pada kelompok kerja yang sama. Contohnya yaitu komunikasi antara karyawan pada tingkatan yang sama, antara manajer perusahaan, atau individu yang setara secara horizontal.

Peranan Psikologi Manajemen dalam Organisasi
            Psikologi manajemen dapat berperan dalam sebuah organisasi yang berguna untuk mencapai tujuan dari organisasi tersebut. Psikologi manajemen dapat berperan dalam hal pengembangan sumber daya manusia yang ada pada sebuah organisasi seperti mengadakan pelatihan, mengawasi kinerja karyawan, dan perkembangan perusahaan serta inovasi dalam memajukan perusahaan. 
Sumber :

Ibrahim, Idi dan Bachruddin Akhmad. 2014. Komunikasi dan Komodifikasi: Mengkaji Media dan Budaya dalam Dinamika Globalisasi. Jakarta : Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

Ismainar, Hetty. 2015. Manajemen Unit Kerja : Untuk Perekam Medis dan Informatika Kesehatan Ilmu Kesehatan Masyarakat Keperawatan dan Kebidanan. Yogyakarta : Deepublish.

Nugroho, Wajudi. 2009. Komunikasi dalam Keperawatan Gerontik. Jakarta : EGC.

Robbins, Stephen dan Timothy A. Judge. 2008. Organizational Behavior. Ed 12. Jakarta : Salemba Empat.

Wiryanto. 2004. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta : Grasindo.
  
Sumber gaambar :
http://4life-4transferfactor.com/bisnis/tips-komunikasi-yang-efektif/




Friday, 30 September 2016

Psikologi Manajemen


Pengertian Sumber Daya Manusia (SDM)

Berikut adalah pengertian sumber daya manusia oleh beberapa ahli yang dikutip dari www.humancapitaljournal.com :

Mathis dan Jackson (2006, h.3) berpendapat bahwa SDM adalah rancangan sistem-sistem formal dalam sebuah organisasi untuk memastikan penggunaan bakat manusia secara efektif dan efisien guna mencapai tujuan organisasi.

Hasibuan (2003, h 244)  sumber daya manusia adalah kemampuan terpadu dari daya pikir dan daya fisik yang dimiliki individu. Pelaku dan sifatnya dilakukan oleh keturunan dan lingkungannya, sedangkan prestasi kerjanya dimotivasi oleh keinginan untuk memenuhi kepuasannya.

M.T.E. Hariandja (2002, h 2) Sumber Daya Manusia merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam suatu perusahaan disamping faktor yang lain seperti modal. Oleh karena itu SDM harus dikelola dengan baik untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi organisasi.

Dari ketiga definisi yang dikemukakan oleh para ahli maka dapat disimpulkan bahwa sumber daya manusia adalah faktor penting dalam sebuah organisasi yang dapat meningkatkan organisasi secara efektif dan efesien sehingga tujuan dari organisasi tersebut dapat tercapai.

Teori Sumber Daya Manusia (SDM)

a.       Teori Klasik Adam Smith : menurut teori ini manusia adalah faktor produksi utama yang menentukan kemakmuran suatu negara. Teori ini memiliki hipotesis bahwa sumber daya alam tidak akan ada artinya tanpa sumber daya manusia yang mengelolanya. Jadi, sumber daya manusia yang efektif adalah syarat yang diperlukan untuk pertumbuhan ekonomi.

b.  Teori Jean Baptiste Say : teori ini mengatakan bahwa setiap penawaran akan menciptakan permintaannya sendiri ( Say’s Law). Hukum Say tersebut berpendapat bahwa nilai produksi selalu setara dengan pendapatan, artinya setiap peningkatan produksi akan diiringi dengan peningkatan pendapatan. Hukum ini akan terpenuhi jika diimbangi dengan peningkatan produktivitas tenaga kerja seperti kemampuan, kedisiplinan, sikap kreatif, inovatif dan etos kerja.

c.  Teori Robert Merton Solow : menurut teori ini pertumbuhan output merupakan hasil kerja dua faktor input utama yaitu modal dan tenaga kerja. Pertumbuhan penduduk dapat berdampak positif dan negatif. Oleh sebab itu, menurut Robert pertambahan penduduk harus dimanfaatkan sebagai sumber daya yang positif.

d.   Teori Ester Boserup : teori ini berpendapat bahwa pertumbuhan penduduk (sdm) mengakibatkan sistem pertanian dipakai lebih intensive sehingga meningkatkan output pada sektor tersebut. Selain itu penduduk juga mendorong penggunaan biologi pertanian pada tingkat yang lebih tinggi dan diterimanya suatu inovasi baru.

e.   Teori Coale-Hoaver : teori ini melihat manusia bukan hanya sebagai input dalam proses produksi tetapi juga sebagai konsumen produksi. Menurut teori ini kemiskinan bukan diakibatkan karena kurangnya permintaan, tetapi karena kekurangan modal fisik pembangunan. 

      Pengertian Organisasi

-        Menurut Hafidhuddin dan Tanjung (2003:27) organisasi adalah interaksi-interaksi orang dalam sebuah wadah untuk melakukan sebuah tujuan yang sama dan sebuah proses yang dilakukan bersama-sama dengan landasan, tujuan, dan cara yang sama.
-          Menurut Stoner, dalam Ismainar (2015) organisasi adalah suatu pola-pola hubungan yang dimana orang-orang dibawah pengarahan atasan mengejar tujuan bersama.
-          Menurut James D. Mooney, dalam Ismainar (2015) organisasi adalah bentuk setiap perserikatan manusia untuk mencapai tujuan bersama.
-          Menurut Chester I. Bernard, dalam Ismainar (2015) organisasi adalah suatu sistem aktivitas kerja sama yang dilakukan oleh dua orang atau lebih.
-     Menurut Stephen P. Robbins, dalam Ismainar (2015) organisasi adalah kesatuan sosial yang dikoordinasikan secara sadar, dengan sebuah batasan yang relatif dapat diidentifikasikan, yang bekerja atas dasar yang relatif terus-menerus untuk mencapai suatu tujuan bersama atau sekelompok tujuan.

Dari kelima pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa organisasi adalah suatu wadah yang didalamnya terdapat interaksi sosial yang bertujuan untuk mencapai tujuan bersama yang telah ditetapkan oleh organisasi tersebut.  

Teori Organisasi

a.   Teori organisasi klasik : menurut teori ini organisasi adalah struktur hubungan, kekuasaan-kekuasaan, tujuan-tujuan, peranan-peranan, kegiatan-kegiatan, komunikasi, dan faktor lain jika seseorang bekerja sama. Teori ini dibagi menjadi tiga yaitu :
-          Teori birokrasi : terdapat wewenang dari seperangkat aturan, prosedur, dan peranan yang dirumuskan secara jelas serta adanya penetapan tujuan yang ingin dicapai.
-          Teori administrasi : teori yang langsung dari praktek manajemen dan memusatkan aspek makro sebuah organisasi.
-         Teori manajemen ilmiah : teori yang langsung dari praktek manajemen dan memusatkan aspek mikro sebuah organisasi.

b.      Teori neoklasik : teori ini berpendapat tentang pentingnya aspek psikologis dan sosial karyawan sebagai individu ataupun sebagai kelompok kerja.
c.       Teori modern : menurut teori ini semua unsur organisasi adalah satu kesatuan yang saling bergantung dan tidak dapat dipisahkan. Organisasi bukan sistem tertutup melainkan sebuah sistem terbuka yang berkaitan dengan lingkungan dan jika ingin bertahan hidup maka ia harus beradaptasi dengan lingkungan.

Pengertian Kepemimpinan

-          Menurut Hemhill dan Coons : kepemimpinan adalah perilaku dari seorang individu yang  memimpin aktivitas-aktivitas suatu kelompok ke suatu tujuan yang ingin dicapai bersama.
-               Menurut Tannenbaum, Weschler, dan Masarik : kepemimpinan adalah pengaruh antar pribadi yang dijalankan dalam suatu situasi tertentu, serta diarahkan melalui proses komunikasi, ke arah pencapaian satu atau beberapa tujuan tertentu.
-          Menurut Stogdill : kepemimpinan adalah pembentukan awal serta pemeliharaan struktur dalam harapan dan interaksi.
-          Menurut Katz dan Kahn : kepemimpinan adalah peningkatan pengaruh sedikit demi sedikit pada , dan berada di atas kepatuhan mekanis terhadap pengarahan-pengarahan rutin organisasi.
-          Menurut Rauch dan Behling : kepemimpinan adalah suatu proses mempengaruhi aktivitas-aktivitas sebuah kelompok yang diorganisasi ke arah pencapaian tujuan. 

Dari definisi diatas maka dapat disimpulkan bahwa kepimimpinan adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan memberikan pengaruh serta adanya kepatuhan yang digunakan untuk mencapai sebuah tujuan yang diinginkan.

     Teori Kepemimpinan

a.           Teori genetis : menurut teori ini seseorang menjadi pemimpin karena ia telah dilahirkan untuk menjadi pemimpin, artinya orang tersebut telah memiliki bakat dan pembawaan untuk memimpin. Teori ini mengasumsikan bahwa tidak semua orang dapat menjadi seorang pemimpin, hanya orang yang dikaruniai bakat dan pembawaan saja yang bisa. Sehingga memunculkan anggapan “pemimpin tidak hanya sekedar dibentuk tapi dilahirkan”.
b.      Teori sosial : menurut teori ini seseorang dapat menjadi seorang karena didukung oleh lingkungan, keadaan, dan waktu. Semua orang dapat memimpin meskipun tidak memiliki bakat, asalkan diberi kesempatan dan pembinaan.Hal tersebut memunculkan istilah dari teori ini yaitu “pemimpin dibentuk bukan dilahirkan”.
c.       Teori ekologis : merupakan gabungan dari teori genetis dan sosial, yaitu seseorang yang menjadi pemimpin membutuhkan bakat dan bakat tersebut harus selalu dibina agar terus berkembang. Lingkungan menjadi faktor apakah bakat tersebut dapat berkmbang atau tidak.
d.      Teori situasi : seseorang dapat menjadi pemimpin jika ia berada dalam situasi tertentu, dikarenakan orang tersebut memiliki kelebihan-kelebihan yang dibutuhkan dalam situasi itu. Namun, dalam situasi lain kelebihannya tersebut tidak dibutuhkan lagi, sehingga ia tidak menjadi seorang pemimpin lagi, tetapi menjadi pengikut.

 Kaitan antara SDM, Kepemimpinan, dan Organisasi

Dari teori-teori yang dipaparkan diatas, maka dapat dikatakan bahwa antara SDM, organisasi, dan kepemimpinan ketiganya saling berkaitan. Dikatakan seperti itu karena organisasi merupakan suatu wadah yang di dalamnya terdapat interaksi sosial yang berguna untuk mencapai tujuan organisasi tersebut. Supaya melalui interaksi tersebut dapat terjadi pencapaian tujuan organisasi, maka diperlukanlah SDM yang memiliki kinerja efektif dan efesien. Untuk mencapai hal tersebut maka diperlukanlah seseorang yang dapat memimpin dengan membawa pengaruh baik, sehingga tercipta kepatuhan dari SDM untuk berkerja lebih baik lagi.

Contoh yang terdapat di Indonesia

Contoh yang dapat kita lihat di Indonesia yaitu cara kerja Gubernur DKI Jakarta atau yang biasa kita kenal dengan nama Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Menurut saya, beliau adalah pemimpin yang berkeja keras menjadikan wilayah DKI Jakarta lebih baik. Kinerjanya sudah banyak dilihat dan dirasakan oleh warga DKI, seperti banjir yang sudah semakin berkurang, terciptanya rumah susun yang sangat bermanfaat bagi warga sekitar serta berguna bagi kesehatan lingkungan. Selain itu, beliau juga sangat mengapresiasi SDM yang bekerja di bawah naungannya, seperti yang kita ketahui pasukan oranye di DKI diberikan fasilitas yang layak untuk menghargai apa yang mereka lakukan bagi DKI. Bukan itu saja, Pak Ahok juga merupakan pemimpin yang tegas dalam melaksanakan tujuannya, sehingga bila ada sesuatu yang kurang baik dari staffnya maka ia akan langsung menegur dan mengingatkan. Hal tersebut dilakukan supaya tujuan dari pemerintah dapat tercapai untuk kesejahteraan warga DKI Jakarta. 

                                



Sumber :
Hafidhuddin, Didin dan Hendri Tanjung. 2003. Manajemen Syariah dalam Praktik. Jakarta : Gema Insani Press.
Idris, Amiruddin. 2016. Pengantar Ekonomi Sumber Daya Manusia.Yogyakarta : Deepublish.
       Ismainar, Hetty. 2015. Manajemen Unit Kerja. Yogyakarta: Deepublisher.


.